
Bismillahirrahmanirrahim,
As salam warahmah, wabarakah..
Baik kali ni, aku nak cerita sikit pasal Imam Mahdi.. Rata-rata, kalau kita bertanya pada ASWJ, Imam Mahdi ni, orang yang spesel yang pastinya maksum seperti yang dijanjikan Muhammad akan lahir dari keturunan baginda saaw..
I heard the Messenger of God say: "The Mahdi is of my lineage and family […]"
source: [
Sunan Abu Dawud, 11/373; Sunan Ibn Maajah, 2/1368.]
The Messenger of God said: "The Mahdi is of my lineage, with a high forehead and a long, thin, curved nose. He will fill the earth with fairness and justice as it was filled with oppression and injustice, and he will rule for seven years.
Source: [
Sunan Abi Dawud, Kitaab al-Mahdi, 11: 375, hadith 4265; Mustadrak al-Haakim, 4: 557; "he said: this is a saheeh hadeeth according to the conditions of Muslim, although it was not reported by al-Bukhari and Muslim". See also Sahih al-Jaami, 6736.]
Baik.. Hadith di atas sahihain ini merupakan hadith yang merupakan rujukan Ahlusunnah wal jamaah.. sekaran saya kemukakan pula dari sisi Ahlul Bait..
Sadir al-Sayrafi says: I heard from Imam Abu Abdullah Jafar al-Sadiq that: ... He whose rights have been taken away and who is denied (hazrat* mahdi (as)) will walk among them, move through their markets and walk where they walk. but they will not recognize hazrat mahdi (as) until Allah gives them leave to recognize him, just as He did with the Prophet Yusuf (as).
Source: [
Sheikh Muhammad bin Ibrahim Nomani, al-Ghaybah al-Nomani, p.189]
Muhammad al-Baqir, the Fourth (Isma'ili) or Fifth (Twelver) Imam said of the Mahdi:
The Master of the Command was named as the Mahdi because he will dig out the Torah and other heavenly books from the cave in Antioch. He will judge among the people of the Torah according to the Torah; among the people of the Gospel according to the Gospel; among the people of the Psalms in accordance with the Psalms; among the people of the Qur'an in accordance with the Qur'an.
Ja'far al-Sadiq, the Sixth Imam, made the following prophecies:
Abu Bashir says: When I asked Imam Ja'far al-Sadiq, "O son of the Messenger of God! Who is the Mahdi (qa'im) of your clan (ahl al-bayt)?", he replied: "The Mahdi will conquer the world; at that time the world will be illuminated by the light of God, and everywere in which those other than God are worshipped will become places where God is worshiped; and even if the polytheists do not wish it, the only faith on that day will be the religion of God.[16]
Sadir al-Sayrafi says: I heard from Imam Abu Abdullah Ja'far al-Sadiq that: Our modest Imam, to whom this occultation belongs [the Mahdi], who is deprived of and denied his rights, will move among them and wander through their markets and walk where they walk, but they will not recognize him.[17]
Abu Bashir says: I heard Imam Muhammad al-Baqr say: "He said: When the Mahdi appears he will follow in the path of the Messenger of God. Only he [the Mahdi] can explain the works of the Messenger of God.[18]
Source: [(16)
Bihar al-Anwar: 51: 146, (17) Muhammad ibn Ibrahim Nomani: 189 (Sheikh Muhammad ibn Ibrahim Nomani, al-Ghaybah al-Nomani,p. 189, (18) Muhammad ibn Ibrahim Nomani: 191, ]
So, yg kat atas tu sedikit dalil yg menunjukkan bahawa memang wujudnya Imam Mahdi.. kenapa Imam eh? ermm.. kenapa Syiah berpegang pada konsep Imamiyah eh? ape tu imam plak? pemimpin..? of course..
sebagai bekas sunni, imam mahdi tu hanyalah satu figur yg akan muncul dari tak tahu celah mane secara tiba2 dan habis licin satu dunia jadi aman secara tiba2..
but syiah had explained the exact concept of imamiyah, yang mana lepas tertutupnya pintu keRasulan, akan ada penerus dan penjaga amanat2 Rasulullah saaw.. siapa penjaga amanat tu sudah tentulah 12 khalifah seperti mana yg dijanjikan Muhammad saaw.. 12 khalifah? 12 Imamiyah/ ithna Asya'ariyah?.. kebetulan ker? mengarut ker.. terpulanglah.. anda yang berfikir dan mencari gali..
sewaktu aku sunni aku cuma ingat sesudah wafatnya baginda saaw, terputus langsung pertalian antara manusia dan Allah/Tuhan sekelian alam.. tapi hakikatnya, janji Allah untuk memelihara Quran dengan perlantikan 12 Imam/pemimpin setiap zaman untuk memimpin umat manusia dengan penjagaan amanat2 Rasul tinggalkan.. dan begitulah logiknya janji Tuhan yang tak meninggalkan umat manusia tanpa sebarang pemimpin terpilih untuk memberi panduan pada manusia seluruhnya.. baik.. selanjutnya ialah kupasan daripada Hadi Huda mengenai imam Mahdi a.s ajf;
Dalam pemerintahan Imam Mahdi as, tujuan-tujuannya, adalah hakiki yang mendarah daging di kedalaman perasaan manusia dan semua berharap untuk sampai kepadanya, program-programnya telah diatur sedemikian rupa sesuai ajaran-ajaran al-Quran dan sunah Ahli bait as, dan di setiap bagian jaminan pelaksanaannya sudah ada. Oleh karena itu hasil revolusi besar ini sangat gemilang. Dalam satu ungkapan perlu disampaikan di sini, hasil-hasil dari pemerintahan Imam Mahdi as adalah jawaban dari setiap kebutuhan materi dan spiritual manusia yang telah dititipkan oleh Allah SWT dalam masing-masing diri manusia.
Berikut ini, kita akan sedikit melihat pada sebagian riwayat yang menunjukkan hasil-hasil pemerintahan Imam as:
1. Tegaknya Keadilan.
Dalam riwayat yang begitu banyak disebutkan, bahwa hasil terpenting dari kebangkitan Imam Mahdi as adalah penuhnya dunia dengan keadilan yang mana pembahasan ini telah disebutkan pada tujuan-tujuan pemerintahan Imam. Akan tetapi dalam pembahasan ini, kami hanya mau menambahkan hakikat yang telah di bahas tadi, bahwa dalam pemerintahan Imam Mahdi as keadilan akan berjalan di setia sendi-sendi kehidupan manusia, tiada lembaga dan perkumpulan, besar maupun kecil yang tersisa kecuali keadilan tercium di sana serta hubungan antar manusia akan terjalin berdasarkan hal ini.
Imam Jaafar Shadiq as berkata: ”Sumpah demi Allah swt, beliau as akan membawa keadilan ke rumah, seperti halnya panas dan dingin menembus setiap rumah.” (Bihâr al-Anwâr, juz 52, halaman 362.)
Saat rumah yang menjadi kumpulan terkecil dari sebuah masyarakat telah berubah menjadi taman keadilan dan hubungan di antara berdasarkan keadilan, berarti hal ini menjadi satu gambaran bahwa pemerintahan global yang adil tidak berlangsung karena tekanan dan kekuatan undang-undang, akan tetapi berdasarkan sebuah pendidikan al-Quran yang senantiasa memberikan wejangan untuk berbuat adil dan baik, ( Al-Quran mengatakan:” sesungguhnya Allah SWT memerintahkan keadilan dan kebaikan. Surah Nahl, ayat 90.) mendidik manusia. dan pada suasana semacam ini, seluruhnya berkat rasa tanggung jawab kemanusiaan dan ketuhanan, tidak akan dapat melanggar hak-hak orang lain kendati dari sisi posisi dan kedudukan mereka di bawah mereka.
Di dalam masyarakat yang dijanjikan, keadilan adalah sebuah perjalanan kebudayaan yang pokok dan dengan dukungan Quran dan pemerintahan yang para penentangnya tak lebih dari segelintir orang pemuja dunia dan yang jauh dari tuntunan Ahli bait as. Saat itu sang pemimpin sejati keadilan akan menghadapi mereka dengan keras dan tidak akan memberikan kesempatan berkembang buat mereka dan khususnya beliau akan mencegah mereka masuk ke jajaran pemerintahan.
Memang, keadilan yang universal semacam ini merupakan hasil pemerintahan Imam Mahdi as yang dinanti-nanti. Dan dengan hal ini, tujuan tertinggi revolusi beliau yang tak lain penuhnya dunia dengan keadilan akan terwujud secara sempurna dan kezaliman juga kelaliman secara menyeluruh akan terserabuti dari tengah-tengah masyarakat.

2. Perkembangan Intelektual, Spiritualitas Dan Keimanan
Pada bagian sebelumnya telah kita sebutkan bahwa tersebarnya keadilan di seluruh penjuru dunia diakibatkan oleh pendidikan yang baik dan tersebarnya budaya al-Quran dan ahli bait as di tengah-tengah masyarakat. Dan dalam riwayat telah disebutkan perkembangan intelektualitas, spiritualitas dan keimanan dalam pemerintahan Imam Mahdi as.
Imam Muhammad Baqir as berkata:”saat Qaim as kami bangkit, beliau akan mengangkat tangan penuh mulianya ke kepala manusia dan dengan berkahnya akal dan benak mereka akan menjadi sempurna.” (Bihâr al-Anwâr, juz 52, hadis 71, halaman 336.)
Dan semua kebaikan dan keindahan akan muncul seiring dengan kesempurnaan akal manusia, karena akal merupakan rasul di dalam diri mereka di mana jika akal yang memimpin pada dunia badan tersebut maka segala pemikiran dan tindakan manusia akan mengarah kepada kebaikan dan reformasi. Dan jalan penghambaan terhadap Allah SWT dan pencapaian kebahagiaan akan menjadi mulus.
Imam Jaafar Shadiq as ditanya tentang akal. Beliau as menjawab:” akal adalah sebuah hakikat yang karenanya Allah SWT disembah, dan dengan tuntunannya surga dapat teraih.” (Kâfi, juz 1, Hadis ketiga, halaman 58.)
Iya, dewasa ini, kita memahami dari masyarakat, bahwa masyarakat tanpa seorang pemimpin, hawa nafsu telah mengalahkan akal sehat manusia, dan syahwat telah menjelma pemimpin satu-satunya person maupun kelompok. Dampak dari hal ini adalah terinjak-injaknya hak-hak masyarakat serta terlupakannya nilai-nilai ilahiah. Akan tetapi, pada masyarakat impian yang dijanjikan kelak dan di bawah naungan pemimpin terakhir Allah SWT yang merupakan akal murni sendiri, benak dan akal manusia akan memegang kendali ketenangan akan tercipta keindahan akan teraih karena akal telah menyempurna.

3. Persatuan Dan Kekompakan
Sesuai riwayat-riwayat, masyarakat yang berada di bawah kepemimpinan Imam Mahdi as, akan bersatu dan akrab. Dan pada pemerintahan beliau sudah tidak ada lagi tempat untuk iri hati dan permusuhan satu sama lain yang berada di hati-hati hamba manusia.
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata:”saat Qaim as bangkit, maka rasa iri hati akan hilang dari hati-hati umat manusia.”
Pada masa itu, tidak ada lagi alasan untuk iri hati karena saat itu adalah masa keadilan dan tidak ada hak-hak orang yang terampas, karena itu adalah masa akal bukan masa nafsu dan syahwat.
Oleh karena itu, mukadimah untuk membenci, iri hati, syirik dan lain-lain sudah tidak ada lagi. Dengan demikian hati-hati manusia yang pada saat itu mereka kembali kepada persaudaraan yang telah dijelaskan olah al-Quran. (Sebagaimana firman Allah SWT:”sesungguhnya kaum beriman itu bersaudara...” (Surah Hujurat, ayat ke-10).
Dan saat itu terjadi rasa kasih sayang dan perasaan sehati akan didapatkan.
Imam Jaafar Shadiq as saat menjelaskan masa-masa nan hijau pemerintahan Imam Mahdi as, berkata:” pada saat itu, Allah SWT akan menyatukan hati yang sudah tercerai berai.” (Kamâl ad-Dîn, juz 2, bab 55, hadis ketujuh, halaman 548.)
Jika tangan Tuhan sudah ikut campur maka hal ini tidak perlu diherankan lagi bahwa bagaimana mungkin hati-hati dapat disatukan, mengingat hal ini, pada saat ini, merupakan hal yang sangat mustahil sekali.
Imam Jaafar Shadiq as berkata:”saat Qaim kami bangkit, bersahabat sejati dan keakraban sebenarnya akan muncul. Setiap orang yang memerlukan akan mengambil keperluannya dari kantong saudaranya yang seiman sesuai kebutuhannya sedang saudaranya tersebut tidak akan pernah melarangnya.” (Bihâr al-Anwâr, juz 52m hadis 164, halaman 372.)
4. Keselamatan Jasmani Dan Rohani
Salah satu problem umat manusia saat ini adalah munculnya penyakit-penyakit akut yang tak dapat disembuhkan akibat berbagai faktor, salah satunya tercemarnya lingkungan hidup dengan persenjataan bermuatan kimia, atom dan bakteri-bakteri. Begitu juga, hubungan ilegal antara manusia, lenyapnya hutan-hutan, mengeringnya lautan adalah beberapa faktor munculnya penyakit-penyakit seperti kusta, kolera, polio, penyakit kelamin, keguguran bayi dan puluhan penyakit lain yang tak mampu disembuhkan oleh kedokteran dan medis dewasa ini. Di samping itu lis panjang penyakit-penyakit fisik ini, juga harus ditambah lagi dengan penyakit-penyakit atau gangguan mental dan jiwa yang tidak kalah banyaknya, yang tanpa diragukan hal-hal itu telah membuat kehidupan manusia terasa pahit dan tak dapat dipikul. Dan hal ini akibat relasi dan hubungan di antara manusia yang tidak sehat atau hubungan mereka dengan dunia.
Pada masa pemerintahan mulia Imam Mahdi as, yang merupakan masa keadilan dan pemerintahan keutamaan dan keindahan dan hubungan berdasarkan persaudaraan dan kesetaraan. Maka jelas penyakit fisik atau gangguan mental akan lenyap dari kehidupan manusia. dan kekuatan manusia baik jasmani maupun rohani akan bertambah luar biasa sekali.
Imam Jaafar Shadiq as berkata:”saat Qaim as bangkit, Allah akan menjauhkan penyakit-penyakit dari kaum beriman dan akan mengembalikan kesehatan mereka.” (Biharul Anwar, hadis 138, halaman 364.)
Dalam pemerintahan beliau as di mana ilmu pengetahuan begitu berkembang secara spektakuler sudah tidak ada lagi penyakit yang tak dapat disembuhkan. Kedokteran dan medis akan berkembang dan berkat wujud suci beliau as penyakit-penyakit akan sembuh seperti sedia kala.
Imam Muhammad Baqir as berkata:”barang siapa yang mengalami Qaim kami as, jika dia tertimpa oleh penyakit dia akan sembuh.” (Biharu Anwar, hadis 68, halaman 335.)
5. Kebaikan dan Berkah Yang Melimpah
Salah satu hasil besar dari pemerintahan Qaim keluarga Nabi Saaw adalah kebaikan dan berkah yang melimpah ruah yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pada musim semi pemerintahan beliau as segala penjuru akan menghijau dan makmur keceriaan dan kehidupan akan tercium di sana. Langit akan menurunkan bebannya yang penuh berkah yaitu hujan, bumi menumbuhkan tanaman maka berkah Allah SWT akan melimpah dan tak terhingga.
Imam Jaafar Shadiq as berkata:” Allah SWT dengan wujud suci Imam Mahdi as akan mencurahkan berkah langit dan bumi. Pada masa pemerintahan beliau langit akan turun hujan dan tanaman akan membuah hasilnya.” (Gaibah, Syekh Thusi, hadis 149, halaman 188.)
Pada masa pemerintahan beliau as tidak ada Padang pasir yang tersisa, semua tempat tertutupi oleh kehidupan dan keceriaan.
Perubahan dahsyat dan tiada banding ini, disebabkan masa itu adalah masa kesucian, takwa dan merekahnya keimanan dan manusia pada berbagai lapisan berada di bawah bimbingan ilahiah dan hubungan mereka dengan yang lain berdasarkan nilai-nilai ketuhanan serta Allah SWT telah menjanjikan bahwa lingkungan dan masyarakat yang seperti ini akan dikenyangkan dengan berkah dan kebaikan.
Al-Quran Karim, dalam hal ini mengatakan:” dan sesungguhnya, jika para penduduk bumi beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membuka atas mereka berkah-berkah dari langit dan bumi.” (Surah al-Araf, ayat 96.)
6. Lenyapnya Kemiskinan
Saat semua sumber kekayaan bumi telah tampak di hadapan Imam Mahdi as, dan berkah langit dan bumi melimpah serta kekayaan Baitul mal (kas negara) dibagi secara adil, maka kefakiran dan kemiskinan tidak akan dapat menemukan tempat di sana. Dan manusia dalam pemerintahan beliau tidak akan mencicipi rasanya sebuah kemiskinan. (Muntakhab al-Atsar, pasal ketujuh, bab 3 dan 4, halaman 589-593.)
Pada masa beliau as, hubungan ekonomi berjalan berdasarkan persaudaraan dan kesetaraan. Pokok pencarian keuntungan dan manfaat akan digantikan oleh perasaan cinta, persahabatan dan kesamaan dengan para saudara mereka. Semua melihat orang lain sebagai salah satu bagian keluarganya, oleh karenanya, orang lain dianggap sebagai diri sendiri dan akhirnya persatuan dan satu warna tercium di segala tempat.
Imam Muhammad Baqir as berkata:”Imam Mahdi as setiap tahun akan memberikan bantuan kepada masyarakat sebanyak dua kali, dan setiap bulan dua kali memberikan bantuan (sembako) atau keperluan sehari-hari, beliau melakukan hal ini dengan menjunjung tinggi kesamaan. Sehingga manusia sudah tidak butuh lagi kepada uang zakat...” (Bihâr al-Anwâr, juz 52, hadis 212, halaman 390.)
Dari berbagai riwayat dapat dipahami bahwa sebab kekayaan manusia adalah karena jiwa qanaah mereka. Dengan kata lain, sebelum mereka dari sisi lahir memiliki harta yang berlimpah mereka sudah merasa kaya dari dalam diri mereka. Dan mereka merasa cukup dan rela dengan apa yang telah Allah SWT anugerahkan kepada mereka. Akhirnya mereka tidak akan iri saat melihat kekayaan orang lain.
Rasulullah saaw saat menjelaskan pemerintahan Imam Mahdi as bersabda:”Allah SWT akan menjadikan jiwa dan rasa kaya pada hati-hati manusia.” (Bihâr al-Anwâr, juz 51, halaman 84.)
Sedang pada masa sebelum kebangkitan Imam Mahdi as jiwa cinta keuntungan, manfaat, dan laba menjadi faktor utama persaingan yang tidak sehat dan penumpukan harta dan tidak adanya infak untuk orang-orang yang membutuhkan.
Al-hasil, pada masa pemerintahan Imam Mahdi as, kekayaan akan terwujud baik dari luar maupun dari dalam. Dari satu sisi kekayaan yang melimpah dibagi dengan adil dan dari sisi yang lain qanaah menjadi ciri manusia pada saat itu.
Rasulullah saaw, setelah menjelaskan bantuan Imam Mahdi as terhadap manusia, beliau saaw menambahkan: ”Dan Allah swt akan menjadikan hati-hati umat Muhammad saw, merasa tidak butuh dan menjadikan keadilan Imam Mahdi as tersebar di segala penjuru, sehingga Imam memerintahkan agar seseorang bangkit untuk mengumumkan: siapakah yang memerlukan harta benda? Maka tidak ada orang yang bangkit dari manusia kecuali satu orang! Maka Imam Mahdi as bersabda kepadanya, pergilah engkau ke petugas gudang kekayaan dan katakan padanya bahwa Mahdi as memerintahkanmu untuk memberikan harta kepadaku. Maka petugas tersebut berkata, berikan pakaianmu supaya aku dapat memenuhinya. Saat dia memikulnya dia menyesal dan berkata, kenapa aku menjadi orang yang paling rakus di antara umat Muhammad saaw...? maka dia berniat untuk mengembalikan harta tersebut. Akan tetapi petugas tersebut tidak menerimanya seraya berkata, apa yang telah kami berikan tidak akan kami ambil kembali.” (Bihâr al-Anwâr, juz 51, halaman 92.)
7. Kemenangan Islam dan Lenyapnya Kekafiran
Al-Quran Karim dalam tiga tempat telah menjanjikan bahwa agama Islam akan menyebar luas di seluruh penjuru dunia: “Dialah tuhan yang telah mengutus RasulNya dengan hidayah dan agama yang benar, supaya dia menangkan agama tersebut atas agama-agama yang lain..(Surah Taubah, ayat 33, surat Fath, ayt 28 dan surah Shaf, ayat 9..)
Dan tanpa diragukan lagi, bahwa janji Allah SWT itu dapat terjadi dan tidak akan pernah menyimpang sebagaimana sabda-Nya dalam al-Quran:”sesungguhnya Allah SWT tidak akan melanggar janji-Nya.” (Surah Ali Imran, ayat 9.)
Akan tetapi, pada sisi yang lain juga telah jelas bahwa dengan berbagai daya dan upaya tanpa henti Rasulullah saaw dan para wali Allah, janji dan kabar gembira tersebut belum terjadi hingga sekarang. (Hal ini, bukanlah klaiman tapi sebuah fakta sejarah, dan hal ini telah ditegaskan oleh para mufasir; baik dari kalangan Syiah maupun dari kalangan Ahli sunah. Seperti Fakhru Razi, dalam Tafsir Kabir, juz 16, halaman 40 dan Qurthubi dalam tafsirnya, juz 8, halaman 121, serta Thabarsi dalam kitab Majmaul Bayan, juz 5, halaman 35.)
Dan seluruh umat Islam senantiasa berharap datangnya saat-saat manis tersebut. Dan harapan ini juga hakikat yang telah diterangkan oleh para Maksum as.
Oleh karena itu, dalam naungan pemerintahan beliau as suara syahadah lailaha illah dan Muhammad Rasulullah akan tersebar di seluruh dunia. Serta tidak akan tersisa lagi tempat untuk kekafiran.
Imam Baqir as dalam menjelaskan ayat “ dan bunuhlah mereka sehingga tidak ada fitnah (lagi) dan semua agama hanya milik Allah swt semata.” (Surah Anfal, ayat 39.)
Nabi saaw bersabda, “takwil dari ayat ini belum terjadi, dan saat Qaim kami bangkit mereka yang mengalami zaman beliau akan mengetahui takwilan dari ayat tersebut. Dan pada saat itu agama Muhammad Saw akan tersebar luas si segala penjuru dunia. Sehingga di atas muka bumi tidak tersisa lagi pengaruh atau bau kesyirikan, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.” (Bihâr al-Anwâr, juz 51, halaman 55.)
Hanya saja, universalitas Islam disebabkan oleh fakta dan daya tarik Islam yang pada masa pemerintahan Imam Mahdi as hari demi hari semakin bersinar. Semua tertarik padanya kecuali mereka yang congkak dan keras kepala di mana kelompok semacam ini akan dibasmi oleh beliau as.
Poin terakhir dalam bagian ini adalah, kesatuan aqidah yang berada di bawah naungan pemerintahan Imam Mahdi as ini merupakan mukadimah yang sangat baik dan sesuai untuk membentuk masyarakat tunggal dunia. Dunia sudah sejak dulu menanti datangnya hari tersebut mereka pasrah kepada sistem yang satu, kemudian di bawahnya hubungan di antara umat berlangsung berdasarkan keyakinan yang sama, sesuai penjelasan ini, kesatuan akidah dan bersatunya umat manusia di bawah satu panji agama yang satu merupakan keniscayaan dan kebutuhan yang sangat pokok di mana hal itu dapat terjadi di zaman pemerintahan Imam Mahdi as.

8. Stabilitas Umum
Dalam pemerintahan Imam Mahdi as yang merupakan masa tersebarnya kebaikan di dalam berbagai sisi kehidupan, keamanan yang menjadi nikmat Allah SWT yang terbesar dan harapan tertinggi bagi setiap manusia akan terwujud.
Saat manusia mengikuti satu akidah dan satu keinginan, dalam hubungan sosial mereka berpegang teguh kepada dasar-dasar spiritualitas yang luhur dan keadilan di setiap lini kehidupan baik personal maupun sosial telah berlangsung, maka tidak ada alasan lain lagi yang membuat ketidak amanan dan rasa takut berkeliaran di tengah-tengah kehidupan. Di dalam sebuah masyarakat sosial yang setiap orang mendapatkan hak-hak ilahi dan manusiawinya dan tindakan aniaya dan melampaui batas akan ditangani oleh undang-undang secara seksama maka keamanan general dan sosial akan secara mudah diwujudkan.
Imam Ali bin Abi Thalib as berkata: “di tangan kami (dalam pemerintahan kami) masa-masa sulit dilalui...dan saat Qoim kami bangkit rasa iri hati hilang dari hati-hati manusia, hewan-hewan tidak ketinggalan untuk beradaptasi. (pada masa itu keamanan begitu besarnya) di mana seorang perempuan dengan berbagai perhiasan emas dan peraknya pergi dari Irak ke Siria sedang tidak ditakutkan oleh sesuatu apapun. (Khisal, juz 2, hal 418.)
Hanya saja, bagi kita yang hidup di zaman di mana keadilan dipasung rasa iri hati tersebar luas anggapan untuk terjadinya masa seperti itu sangatlah sulit. Akan tetapi, sebagaimana telah disebutkan jika kita mengamati faktor-faktor segala keburukan dan kejelekan dan kita mengerti bahwa faktor-faktor tersebut akan dilenyapkan dalam pemerintahan yang hak maka kita akan mengetahui bahwa janji Allah untuk menciptakan masyarakat yang tenang dan aman adalah sebuah keniscayaan.
Allah swt di dalam al-Quran Karim berfirman: “Allah swt telah menjanjikan kepada kalian orang-orang yang beriman untuk menjadikan mereka sebagai khalifah di atas muka bumi ...dan setelah mereka berada di dalam suasana ketakutan Dia akan menganugerahkan keamanan dan ketenangan...” (Surah Nur, ayat 55.)
Imam Jaafar Shadiq as saat memaknai ayat ini, berkata: “ayat ini turun berkaitan dengan Imam Qoim as dan para pengikutnya”.(Ghaibah Nukmani, hadis ke 35, hal 240.)
9. Tersebarnya Ilmu Pengetahuan
Dalam masa pemerintahan Imam Mahdi as misteri-misteri ilmu pengetahuan yang menyelimuti ilmu-ilmu Islam dan kemanusiaan akan tampak. Dan ilmu pengetahuan manusia akan berkembang tanpa dapat dibayangkan.
Imam Jaafar Shadiq as berkata: “ilmu pengetahuan adalah dua puluh tujuh huruf dan segala hal yang telah dibawa oleh para Nabi itu hanya dua huruf, dan manusia hingga saat ini tidak mengenal kecuali dua huruf tersebut. Saat Qaim kami bangkit dia akan mengeluarkan dua puluh lima huruf yang tersisa dan menyebarluaskannya di tengah-tengah mereka lalu menggabungkan dengan dua huruf yang ada sehingga dua puluh tujuh huruf secara bersamaan akan disebarkan.” (Bihâr al-Anwâr, juz 52, hal 326.)
Jelas, perkembangan ilmu dan pengetahuan itu akan terbuka untuk manusia dalam berbagai bidang dan di dalam berbagai riwayat terdapat berbagai indikasi yang menunjukkan bahwa pengetahuan industri di zaman tersebut dan industri yang sedang berlangsung itu sangatlah jauh sekali, sebagaimana industri dewasa ini memiliki perbedaan dan kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan Abad sebelumnya.
Berikut ini akan kami sebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan topik ini:
Imam Jaafar Shadiq as saat menjelaskan metode hubungan dan transformasi di masa pemerintahan Imam Mahdi as, berkata : "pada masa Qoim as seorang mukmin di belahan timur bumi itu dapat melihat saudaranya yang berada di belahan barat bumi...” (Bihâr al-Anwâr, juz 52, hal 391.)
Beliau juga berkata: “Saat Qoim kami bangkit, Allah swt akan menambah kekuatan pendengaran dan penglihatan Syiah kami di mana Imam akan berbicara dengan para pengikutnya dari jarak empat farsah, mereka mendengar suaranya dan melihat beliau padahal Imam Mahdi as berada di tempatnya.” (Bihâr al-Anwâr,juz 52 , hal 336.)
Dan berkaitan dengan pengetahuan Imam Mahdi tentang kondisi manusia di mana beliau sebagai pimpinan pemerintahan dan pusat komando dalam sebuah riwayat disebutkan: “Jika seseorang berkata di dalam rumahnya dia merasa takut jangan-jangan dinding rumahnya melaporkan apa yang dia bicarakan. (Bihâr al-Anwâr, juz 52, hal 390.)