
Apa beza Ahlu Bait sunni dengan Ahlu Bait Imamiah?
Sebelum pergi kepada perbezaan, persamaan antara keduanya ialah, kedua-dua aliran mengenali cucu-cicit Nabi Muhammad yang utama selepas Saidina Hassan dan Hussein. Dan kedua-duanya tahu nasib yang menimpa cucu cicit Muhammad s.a.w.a.
Tapi bezanya, Ahlu Bait versi sunni atau Habib, mereka lebih mentafsir Ahlu Bait itu lebih cenderung kepada pertalian darah iaitu Bani Hasyim dan bukan Itrah Ahlu Bait.
Sebaliknya, Ahlu Bait versi Imamiah mentafsir Itrah Ahlu Bait itu khusus kepada Imam 12 dan mereka yang disucikan daripada segala dosa. Dengan kata lain, ruh Itrah Ahlu Bait ini adalah sesuci-sucinya (refer Ahzab:33) ataupun dengan kata mudah mereka ini maksum seperti VIRGIN MARY atau Maryam ibu kepada Nabi Isa a.s. Sebab itu Nabi sangat-sangat mengangkat martabat Saidatina Fatimah Az-Zahra berbanding Ummul Mukminin yang lain. Begitu jugak Saidina Ali, Hassan dan Hussein a.s yang termasuk dalam surah Ahzab yang termasuk di kalangan Itrah Ahlu Bait seperti dalam Hadis Tsaqalain.
Golongan Habib jugak lebih mempromotekan ahli-ahli sufi, wali-wali keramat dan perihal-perihal mistik (mysticism) atas amalan-amalan seharian yang dilakukan. Sebagai contoh, Mereka lebih mengenali dan mengagungkan figur Syeikh Qadir Al-Jailani berbanding Imam Mahdi a.s, Hassan a.s, Hussein a.s. yang menjadi keutamaan rujukan Mazhab Imamiah.
Walhal Imam Hassan a.s, Hussein a.s mahupun Imam Ali a.s merupakan tokoh yang lebih dekat dengan zaman Muhammad s.a.w.a. Bahkan tokoh-tokoh Imam Maksumin ini direkod dan dipuji dalam catatan dan riwayat-riwayat, sama ada daripada rujukan sunni ataupun syiah Imamiah.Sudah tentu ilmu Imam-imam maksumin ini sepatutnya lebih tinggi berbanding figur Syeikh Qadir Jailani yang cuma muncul beberapa abad selepas itu. Namun, figur wali-wali dan Syeikul Islam yang tidak maksum ini pula yang disanjung tinggi berbanding Imam Ali, Imam Hassan, Imam Hussein dan Imam Mahdi a.s.
Selain itu, golongan Habib lebih cenderung kepada fahaman Jabbariyah atau Determinism (mungkin semi-determinism) yang mana ajal, maut dan nasib yang menimpa manusia telah ditentukan Allah sejak kelahiran. Ini dapat dilihat dalam falsafah mereka dalam pentafsiran KEMATIAN SAIDINA HUSSEIN A.S. Menurut seorang kawan yang cukup takjub dengan Habib atau aliran tasawuf ni (maybe nama lain ialah sufism atau mysticism), ASWJ bergembira atas kematian Hussein a.s sebab Allah dah menetapkan Hussein untuk mati syahid dan terus pergi ke syurga.
Tapi persoalannya, apakah Allah dah tetapkan mereka untuk membunuh Hussein? Apakah Allah dah tetapkan seorang manusia itu nasibnya untuk masuk neraka dengan menjadi penzalim yang membunuh dan menindas Hussein a.s? Kalau macam tu, dah tentu si pembunuh Hussein boleh sahaja claim untuk tak masuk neraka sebab Allah yang telah tetapkan dia untuk membunuh Hussein a.s.
Berbeza dengan Falsafah Kesyahidan Imam Hussein a.s dari sisi Imamiah, kerana fahaman Jabbariyah/Determinism itu bercanggah dengan Quran;
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu sehingga mereka sendiri mengubah nasib mereka..
(Ad-Raad:11)
Fahaman yang agak CELARU ni secara pendeknya boleh dikatakan begitu mengongkong manusia seolah-olah manusia telah hilang kebebasan memilih taqdir hidup. (malulah pada orang Jepun yang lebih memahami qada dan qadar, kerana mereka percaya sebanyak mana mereka usahakan, itulah result yang mereka deserve dapat, manusia sendiri memilih jalan hidup dan mencorakkan hidup untuk bahagia atau grieve foreva). Mungkin sebab tu ramai manusia yang menyalahkan Tuhan atas penyebaran dan pentaklidan terhadap fahaman Jabbariyah ni. Tambahan pula, fahaman macam ni sama seperti Kristian mentafsirkan konsep qada dan qadar mereka atau fate and destiny mereka. Buktinya ada dalam lagu-lagu ratapan diorang yang meluahkan perasaan pada Tuhan. Chop suey - SOAD? One -Metalicca? Where is the Love - Black Eye Pea? Pascendale - Iron Maiden?
JAWAPAN USTAZ:
Imam dalam menjalankan ketaatan firman Tuhan tidak beramal berdasarkan ilmu batin (ilmu imâmah dan ilmu gaib) yang dimilikinya, melainkan beramal sebagaimana orang pada umumnya dan berbuat sebagaimana yang lain pada seluruh hukum syariat. Hal itu dikarenakan Allah Swt menghendaki seluruh titah dan perintah yang ditujukan kepada seluruh hamba-Nya adalah seragam pada setiap orang. Berdasarkan hal itu Rasulullah dalam mengadili dan membuat keputusan di tengan masyarakat tidak beramal berdasarkan ilmu batin (gaibnya). Pengadilan dan peradilan yang dilakukan di tengah masyarakat berdasarkan ilmu normal. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengadili dan memutuskan perkara antara kalian dengan bukti-bukti dan sumpah-sumpah. Sebagian kalian lebih pandai mengemukakan alasan dari yang lain. Siapapun yang aku putuskan memperoleh harta sengketa yang ternyata milik orang lain (saudaranya), sesungguhnya aku putuskan baginya potongan api neraka.”[Al-Kâfi, Kulaini, jil. 7, hal. 414]
Hal ini dimaksudkan bahwa setiap orang memiliki bukti dan saksi atas klaimnya atau menyatakan sumpah. Aku mengadili yang menguntungkan dirinya terlepas apakah ia benar perkataannya atau dusta. Apabila ia berdusta mengatakan sesuatu sebagai milikinya (yang ternyata bukan miliknya) maka hal itu adalah laksana bagian dari api neraka.![]()
Karena itu, kendati Baginda Ali As mengetahui masa dan bagaimana ia syahid namun dalam hal ini ia bertugas mengikuti aturan lahir dan tidak memiliki hak untuk beramal berdasarkan ilmu gaib yang dimilikinya. Hal itu dikarenakan bahwa Baginda Ali As adalah teladan masyarakat Islam dan harus menunaikan tugasnya berdasarkan cara-cara normal dan biasa yang dapat dilakukan oleh semua orang. Di samping itu, beliau juga harus menimbang pelbagai kondisi dan hal-hal yang umum digunakan oleh masyarakat dan beramal berdasarkan hal tersebut. Apabila Imam Ali As ingin beramal berdasarkan ilmu gaibnya maka ia tidak lagi dapat menjadi teladan dan contoh bagi masyarakat. Karena masyarakat tidak memiliki ilmu seperti ini. Dari sisi lain, perbuatan para Imam Maksum As berdasarkan ilmu gaib akan menyebabkan chaos dan kacaunya tatanan sosial dalam masyarakat. Karena itu, mereka pada umumnya dan pada kebanyakan urusan beramal berdasarkan ilmu lahir (ilmu normal) dan kecuali pada saat-saat sebagian yang amat-sangat dibutuhkan mereka tidak menggunakan ilmu gaibnya.
Di samping itu, sistem yang berlaku di alam semesta adalah sistem ujian dan cobaan. Al-Qur’an menyatakan, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut [29]:2) Atau pada ayat lainnya disebutkan, “Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk [67]:2)
Keniscayaan adanya ujian dan cobaan adalah kepemilikan kehendak dan ikhtiar dalam memilih kebaikan dan keburukan. Proses urusan berjalan berdasarkan siklus kewajaran (normal) dan perolehan hasilnya di kampung akhirat. Sementara menggunakan ilmu gaib dan beramal berdasarkan ilmu tersebut akan menghilangkan sistem dan mekanisme ujian tersebut. Mengingat hal itu akan menjadi penghalang normalnya seluruh perbuatan.
Dengan kata lain, benar bahwa Imam Ali As sebagaimana yang lain memiliki tugas untuk membela diri dan jiwanya. Namun pertama, tugas ini berada dalam batasan ilmu normal dan tidak termasuk ilmu gaib. Kedua, dari sisi lain tindakan Ibnu Muljam ini (yang berujung pada kesyahidan Imam Ali) adalah sebuah ujian dan ilmu imam tidak boleh menjadi penghalang kebebasan dan ikhtiarnya. Apabila Imam Ali ingin menggunakan ilmu gaib yang dimilikinya maka hal itu akan menafikan ikhtiar Ibnu Muljam dan dengan demikian tidak tersisa lagi ruang baginya untuk menjalani ujian dan cobaan. Tentu hal ini berseberangan dengan sunnahtuLlah. Sementara seluruh sunnah Ilahi di antaranya ujian para hamba adalah sunnah yang tak tergantikan dan tak berubah. Al-Qur’an terkait dengan sunnah-sunnah Ilahi menyatakan, “Maka sekali-kali kamu tidak akan menemukan penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemukan perubahan bagi sunah Allah itu.” (Qs. Fathir [35]:43) Karena itu, lantaran ilmu gaib akan menyebabkan berganti dan berubahnya sunnah-sunnah Ilahi (berupa ujian dan cobaan) sehingga dengan demikian Imam Ali As tidak boleh menggunakan ilmu gaib yang dimilikinya
NOTA TAMBAHAN: Hendaklah faham dahulu Falsafah dan Konsep Imamiah sebelum menyerang mengapa mereka yang dilantik menjadi Imam itu MAKSUM. Contohilah Ahmad Deedat yan begitu memahami konsep Imamiah dan mereka yang bemazhab Syiah. Semoga tercerah.
(sila rujuk Baqarah:124, Qasas:5, Isra:71)

No comments:
Post a Comment