
Dalam aliran ASWJ, kita biasa mendengar isu yang menyatakan lelaki punya 9 akal 1 nafsu, perempuan 9 nafsu 1 akal, kebanyakan perempuan menghuni neraka dan sebagainya. Hampir keseuanya mendiskreditkan perempuan. Seolah-olah sudah tertanam sejak kecil untuk memusuhi kelompok wanita ini. Namun apabila kita melihat perilaku mereka seperti ibu sendiri, apakah seburuk itu perspektif yang sebenarnya?
Sebuah catitan akhbar bertajukkan Afghan Women Tortured after refusing Prostitution. Membawa kembali memori yang berlaku pada zaman Jahiliyah dahulu. Apakah seusai Muhammad s.a.w.w praktis jahiliyah ini pupus? Tidak! Bahkan elemen ini menyisip masuk sedikit demi sedikit dalam pelajaran agama bagi mencemarkan ajaran Muhammad s.a.w.w. Mungkin sebahagian kita merasakan sesudah Muhammad s.a.w.w wafat, pemerintahan Islam bangun dengan pesat tanpa ada sedikit cacat cela pun. Bukankah di akhir hujung-hujung penurunan wahyu, Muhammad diberitahukan tentang kemunculan orang-orang munafik? Bukankah tatkala itu turunnya surah Munaafiqun? Bukankah ini merupakan satu ancaman baru dan misi yang perlu diteruskan lagi untuk mengelakkan penyelewengan Islam?

Budaya merendah-rendahkan perempuan merupakan elemen-elemen Jahiliah yang masih kekal hingga ke hari ini. Bukankah sudah terbukti sejarah Muhammad s.a.w.w yang tercatit itu bukanlah sekadar cerita bagaimana bermulanya agama untuk menyembah semata-mata?
Kita biasa mendengar kaum perempuan pengundang fitnah bahkan ramainya mereka menghuni neraka. Kenyataan-kenyataan ini telah banyak disisipkan dalam riwayat-riwayat sahih hari ini. Bukanlah saya anti-hadis, tetapi bukankah janji Allah hanya Quran sahaja yang akan terpelihara kandungannya hingga hari kiamat. Bukankah hadis karangan manusia yang bercanggah dengan Quran patut dibuangkan jauh-jauh? [Ops.. ASWJ agak sensitif pasal isu ni]
Tidak ramai yang faham akan Mazhab Imamiah mengenai prinsip mereka terhadap disiplin ilmu dan pegangan mereka terhadap kitab tulisan Mullah (ulama) mereka sendiri;
Imam Shadiq a.s berkata dgn mafhumnya, "Apa-apa hadis/riwayat yg kalian temui, hadapkan ia di hadapan Al-Quran, apa yang sesuai ambillah dan yang menyalahi lemparkan ia (hadis itu) ke dinding."Sebenarnya tidaklah setinggi mana pun kedudukan lelaki ini walaupun mereka merupakan pemimpin dan pelindung seperti yang disebut dalam Quran. Beberapa ulasan daripada mereka yang berpegang dengan mazhab Imamiah. Copy paste dari sini, sini dan sini.
Dalam acara Muthârahât fil Aqîdah di stasiun televisi Al-Kawthar, Ayatullah Kamal Al-Haidari mendapatkan pertanyaan tentang kedudukan wanita dalam Islam menurut mazhab ahlulbait. Beliau memberikan penjelasan yang—bagi saya—melampaui (beyond) dari apa yang selama ini biasa kita dengar. Selamat merenungkannya, semoga bermanfaat.
“Saya tidak bisa berbicara terlalu banyak tentang topik ini karena di luar dari tema acara. Pertama, kita harus membedakan antara hukum-hukum fikih dengan kedudukan wanita. Hukum-hukum fikih tidak menandakan keunggulan pria jika dibandingkan dengan wanita. Artinya bahwa hal tersebut tidak menandakan bahwa pria lebih utama dari pada wanita dalam hal kemuliaan, kesempurnaan, ketakwaan, dan seterusnya.
“Terbukti jelas dalam Alquran bahwa setiap kali membicarakan mengenai tingkat kedekatan kepada Allah, Alquran selalu menyebutkan min dzakarin aw untsa.
Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang- orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan… (QS. 3: 195)
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. 4: 124)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik… (QS. 16: 97)
“Atau ayat yang menyebutkan sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Malam ini saya akan memberi contoh dan silakan renungkan dalam-dalam. Apakah taklif atau kewajiban agama yang dibebankan kepada manusia dianggap sebagai kemuliaan atau perendahan?
“Ketika manusia diberikan kewajiban oleh Tuhan maka ia dianggap sebagai bentuk kehormatan dan hak istimewa bagi orang tersebut. Maka sesungguhnya wanita mendapatkan kemuliaan dan hak istimewa tersebut 6 (enam) tahun lebih dulu sebelum pria mendapatkannya.
“Seorang wanita, pada usia 9 tahun, telah mencapai tingkat intelektual (akal), pemahaman, penerimaan, di mana Tuhan mengajaknya berbicara, ‘Wahai orang-orang yang beriman…’ Apakah pria sudah mencapai tingkat tersebut? Belum. Pria harus menunggu 6 (enam) tahun sampai dia mencapai tingkatan tersebut sehingga barulah pria dapat dipanggil dengan sapaan, ‘Wahai orang-orang yang beriman.’
“Saudaraku, inilah logika ahlulbait, logika Alquran, logika Ali. Tidak seperti mereka yang… jika wanita mengemudi maka harus dicambuk sepuluh kali kemudian waliul amr (menurut istilah mereka) harus ikut campur dan seterusnya… Lihatlah perbedaan antara logika tersebut dengan logika ahlulbait.”
Apakah perempuan itu manusia? Inilah sebuah pertanyaan yang membingungkan orang Eropa dalam waktu yang lama. Mereka berkumpul pada tahun 586 SM di Perancis untuk meneliti isu ini dan menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian mereka menyimpulkan—setelah pertemuan, konsultasi, dan diskusi—bahwa perempuan diciptakan untuk mengabdi kepada laki-laki, dan hal itu tidak terjadi kecuali 30 tahun hingga Nabi saw. bangkit, dan mengatakan kepada dunia bahwa perempuan adalah pasangan hidup laki-laki dan kehidupan dunia adalah perhiasan dan perhiasan yang terbaik adalah wanita yang salihah (baik). Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang menghormati dan memuliakan perempuan serta fungsi pentingnya di masyarakat.
Sebelum masa Nabi Muhammad, di India, wanita tidak punya hak untuk hidup setelah kematian suaminya, tapi harus ikut dengan kematian suaminya. Setelah masa Nabi Muhammad, wanita adalah pendamping lelaki.
Sebenarnya, saudara dan saudari sekalian, siapapun yang membaca jalan hidup (sirah) Nabi akan mendapati bahwa peran perempuan dalam masyarakat pada saat itu lebih besar dari pada peran perempuan pada masa sekarang. Perempuan pada masa Nabi, berperan sebagai istri, ibu, pergi berperang, sebagai dokter, memberikan pendapat umum soal agama (fatwa), juga memberikan nasihat kepada hakim (dan penguasa). Oleh karena itu, banyak dari para istri Nabi yang biasa memberikan saran dalam bidang politik dan sosial.
Sebelum masa Nabi Muhammad, di Yahudi, ketika wantia mengalami menstruasi (haid), lelaki tidak makan atau minum bersama mereka. Lelaki menjauhi wanita. Setelah masa Nabi Muhammad, Aisyah meriwayatkan, “Saya terbiasa minum dari gelas yang dipakai Nabi untuk minum… dan dia juga minum setelah saya ketika masa periode (haid).”
Saya jadi berpikir, apakah peran perempuan masa sekarang kembali ke masa sebelum Nabi Muhammad saw?
Sebelum masa Nabi Muhammad, bangsa Arab, membunuh perempuan adalah perbuatan mulia. Setelah masa Nabi Muhammad, kehidupan dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salihah (baik).
Hari ini, saudara dan saudari sekalian, masih ada para ayah yang memaksa putri mereka untuk menikah dengan pria yang tidak ia inginkan. Pernah datang kepada Nabi, seorang wanita yang mengeluh karena ayahnya memaksanya untuk menikahi pria yang tidak disukainya. Kemudian Nabi memanggil ayah itu dan menyerahkan situasi kepada pilihan wanita apakah setuju dengan tindakan ayahnya atau membatalkan perkawinan. Kemudian wanita itu (semoga Allah rida kepadanya) berkata, “Saya menerima apa yang ayah saya lakukan, tapi ini semua bertujuan untuk membebaskan wanita bahwa sebenarnya seorang ayah tidak berhak melakukan itu!”
Seorang suami memukul istrinya setiap 18 detik di Amerika Serikat.
Juga menjadi biasa dalam fenomena sosial, khususnya bangsa Arab, adalah beberapa pria malu untuk menyebutkan nama istri atau ibu mereka di depan teman-teman. Anda temukan mereka berkata, “Zaujatî, Allâh yakrimak (Istri saya, semoga Allah memuliakan Anda)” atau, “Al-mar’ah, Allah ya’izzak (Wanita itu, semoga Allah membesarkan Anda).” Kalimat ini sudah biasa. Seolah-olah nama perempuan itu aurat yang harus ditutupi. Padahal dulu Nabi ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau mengatakan, “Aisyah.” Beliau tidak mengatakan, “Istri kedua saya,” atau, “Ibunya anak-anak.”
Terungkap, 2 juta wanita telah dipukul di Perancis setiap tahunnya.
Saudariku, jika ada seseorang yang dianiaya, apakah oleh ayahnya atau suaminya, kirimkan pesan kepada kami melalui situs program ini. Kami berjanji akan menyampaikannya ke pemimpin eksekutif Amnesty Commision and the Reform of Albin, Dr. Nassir Az-Zahrani. Komite ini diketuai oleh Pangeran Abdulmajid bin Abdulaziz.
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Dengan maksud apa Anda memukul istri seperti memukul budak, kemudian tidur bersamanya pada malam hari?”
Tidak ada keraguan bahwa Islam memberikan banyak hak bagi lelaki “terhadap perempuan”. Nabi bersabda, “Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk tunduk kepada orang lain, maka saya akan perintahkan istri untuk tunduk terhadap suaminya, karena besarnya hak suami terhadap istri.” Jadi tidak ada keraguan tentang ini dan tidak ada yang menolak, tapi Islam tidak memberikan hak bagi lelaki untuk bertindak zalim (tirani), menganiaya atau memukul istri dan putrinya. Karena bagi putri, perempuan dan istri ada kehormatan Islam yang harus kita hormati!
Di Inggris, 77 persen suami memukul istri karena tanpa sebab.
Rasulullah saw. bersabda, “Bermurah-hatilah terhadap qawarir (perempuan).” (Catatan: Nabi menggunakan kata qawarir yang dalam bahasa Arab merujuk pada mereka yang memiliki kehalusan hati, kebaikan, dan kelembutan). Salah seorang ulama mengatakan, “Benar bahwa perempuan adalah sebagian dari lingkungan sosial, tapi ingat bahwa ia adalah yang mengasuh sebagian yang lain. Maka wanita adalah keselurahan kehidupan sosial.”
Saya yakin, saudara saudariku, bahwa negara Islam tidak akan bangkit kecuali jika kita memberikan kepada perempuan kemuliaannya, ketinggiannya, dan penghormatannya di lingkungan sosial, baginya untuk menjadi seorang ibu yang memiliki martabat, yang melahirkan bagi kita seseorang seperti Umar bin Abdul aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan pria-pria lain yang tiada tandingnya.
Conclusion: Selesai membaca artikel kawan saya, saya hanya boleh duduk termenung memikirkan, "Apakah yang kita belajar selama ni, benar-benar tidak terpesong daripada ajaran Nabi Muhammad s.a.w.w? Benar-benar tulinkah, dan pastikah kita bahawasanya catitan-catitan ilmu yang diwarisi hampir 14 abad ini kesemuanya tidak dicampur aduk dengan fatwa-fatwa khalifah Arab dulu yang menggunakan institusi ulama, untuk mengekang rakyat bagi tujuan pengekalan kuasanya. Adakah kita yakin kita tidak hanya sekadar mengikut membuta tuli ajaran mereka ini atau kita sudah ditipu dan dikekang pemikiran kita dengan ancaman akidah lalu tanpa berfikir panjang terus membaiat kekorupsian hal ehwal agama seperti yang ada pada hari ini?".
Namun perkara ini tidak termasuk buat mereka yang tidak mengabaikan keupayaan hebat akal untuk berfikir jauh dan merenung panjang keserasian ajaran Muhammad s.a.w.w dengan praktis yang kita ada pada hari ini. Saya cuma takut taktik merendah-rendahkan kemuliaan Muhammad s.a.w.w dalam hadis sahih tidak disedari oleh Muslim hari ini, kerana itu ramai yang bertelagah hanya melalui rujukan kitab hadis dan kitab karangan ulama sedangkan mereka itu tidak maksum.~


No comments:
Post a Comment